Jumat, 16 April 2010

MANUSIA DAN BUDAYA

MANUSIA DAN BUDAYA

Tahun semakin berlalu dan tidak terasa sekarang kita sudah menginjak pada abad 21. Proses menuju abad 21 telah berlangsung sejak tahun tujuh puluhan. Berbagai macam pengaruh yang datang tak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas.Film, surat kabar, majalah, radio, televisi gencar menyuguhkan pemikiran, sikap danperilaku yang sebelumnya tidak dikenal. Era globalisasi memungkinkan timbulnyagaya hidup global. Tumbuhnya restoran dengan menu khusus dari mancanegara semakinmenjamur, menggeser selera masyarakat yang semula bertumpu pada resep-reseptradisional. Gaya berpakaian dipengaruhi oleh garis-garis mode yang diciptakan oleh
perancang kelas dunia. Kosmetika, aksesori, dan pernak-pernik lainnya untuk melengkapi
penampilan tidak lepas dari pengaruh era globalisasi, seperti halnya tata busana. Selain
mode, dunia hiburan juga tersentuh. Munculnya kafe, kelab malam, rumah bola (bilyard)
memberi warna baru dalam kehidupan masyarakat. Demikian pula kegiatan pasar.
Bentuk-bentuk pasar tradisional yang memungkinkan terjadinya keakraban antara penjual dan pembeli, sehingga keterlibatan emosional ikut mewarnai, perlahan menghilang dan
berganti dengan transaksi ekonomi semata ketika muncul pasar-pasar swalayan.
Seiring dengan perubahan jaman, masyarakat pun mengembangkan norma-norma,
Pandangan dan kebiasaan baru dalam berperilaku. Era globalisasi yang mewarnai abad 21
telah memunculkan pandangan baru tentang arti bekerja. Ada yang lebih luas dari sekadar
makna mencari nafkah dan ukuran kecukupan dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Orang cenderung mengejar kesempatan untuk bisa memuaskan kebutuhan aktualisasi diri,
sekaligus tampil sebagai pemenang dalam persaingan untuk memperoleh yang terbaik,
tertinggi, terbanyak. Untuk bisa mengikuti gaya hidup yang baru, diperlukan dukungan
kemampuan ekonomi yang tinggi. Kebutuhan ini sangat terasa. Orang sibuk mencari uang untuk bisa memiliki gaya hidup seperti yang ditawarkan. Apalagi media massa juga rajin menggelitik masyarakat untuk dapat mengikutinya, antara lain melalui iklan, sinetron, acara-acara hiburan, dan sebagainya. Kemajuan teknologi komunikasi abad ini telah memungkinkan berita dan cerita segera menyebar ke seluruh pelosok, menyapa siapa saja, tak peduli penerima pesannya siap atau tidak.
Wajah keluarga juga berubah. Perkembangan jaman yang merubah gaya hidup
masyarakat ikut mewarnai kehidupan keluarga. Peran suami istri, pola asuh dan pendidikan anak tidak bisa mempertahankan pola lama sepenuhnya. Pengaruh yang
diterima suami istri, juga yang diterima anak dalam proses perkembangannya, tak lagi
bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah. Orang tua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan pola sikap tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih, dan diambil alih anak. Kebutuhan ini erat kaitannya dengan pembentukan rasa percaya diri dan menumbuhkan motivasi untuk berusaha dan meraih kesempatan agar dapat senantiasa meningkatkan diri. Sikap yang mandiri, tak gentar menghadapi rintangan, mampu berpikir kreatif dan bertindak inovatif tapi juga peduli lingkungan adalah sosok yang diperlukan untuk menjalani kehidupan dalam era globalisasi. Jelas bahwa pengembangan sikap dan perilaku tersebut merupakan tuntutan yang lebih berat daripada hasil pendidikan yang menjadi tanggung jawab generasi sebelumnya. Kemampuan mengantisipasi masa depan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar